Bupati Bima Hadiri Sidang, BM Ungkap "I Love You", Hakim " Jangan Baperan Gus"

iklan 970x250 px

Bupati Bima Hadiri Sidang, BM Ungkap "I Love You", Hakim " Jangan Baperan Gus"

4 Februari 2020
Bupati Bima Indah Dhamayanti Putri Saat berada diruang sidang pengadilan Negeri Raba Bima

Kota Bima, BONGKAR,- Sidang kasus pencemaran nama baik yang melibatkan Bupati Bima sebagai pelapor dan Agus Mawardi sebagai terlapor memasuki masa sidang ke 5. Sidang yang dimulai dari pukul 13:00 itu dipimpin langsung oleh Ketua Pengadilan Raba Bima, Harris Tawa, SH MH.

Bupati Bima Hj. Indah Dhamayanti Putri yang sebelumnya tidak pernah ikut dalam persidangan akhirnya terlihat duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Raba Bima. Dinda yang ditemani oleh tiga orang saksinya hadir untuk memberikan kesaksian didepan Hakim Pengadilan.

Selama lebih kurang dua jam Janda cantik ini menjalani persidangan dengan sejumlah pertanyaan dari hakim, namun orang nomor satu Kabupaten Bima ini masih terlihat santai dan enjoy saja.

Ada hal yang menarik pada sidang lanjutan dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik Bupati Bima, Hj Indah Damayantai Puteri (IDP) oleh terdakwa Agus Mawardy atau pemilik akun Facebook Bima Mawardy (BM). Meminta maaf sembari mengatakan I Love You (aku cinta padamu,red).

“Saudari saksi korban, saya minta maaf. I love you” ucap terdakwa yang membuat Ketua Majelis Hakim, Harris Tewa yang memimpin jalannya sidang pada kasus dugaan penghinaan dan pencemaran nama baik terlihat garang dan langsung bertanya “I Love You apa maksudmu Gus ?” dan dijawab pula Agus dengan menjelaskan I Love you yang dimaksud, permohonan maaf yang teramat tulus dan dalam kepada saudari saksi.

Atas pernyataan minta maaf yang disampaikan Agus Mawardy yang terdengar dua kali dengan kalimat yang sama itu, ketua mejelis hakim melayangkan kata-kata “jangan baper kamu gus, Kamu nda boleh main-main di sidang gus,” tegas majelis hakim pada terdakwa.

Permintaan maaf Agus Mawardy dihadapan majelis hakim itu, ditanggapai Bupati Bima IDP dengan memaafkan secara pribadi dan atas nama agama. Namun dari sisi hukum, IDP tegas meminta majelis hakim menegakan seadil-adilnya, agar dikemudian hari sebagai pelajaran bagi persoalan yang sama pada siapapun dan oleh siapapun.

“Secara agama Islam yang saya anut, saya memaafkan. Tapi hukum dan keadilan saya minta ditegakkan,”kata IDP.

Sidang yang diketaui majelis hakim, Harris Tewa dengan didampingi Hakim Anggota Frans Cornelius dan Horas El Cairo Purba digelar sekitar pukul 13.30 Wita dan berakhir sekitar pukul 15.30.

Setelah mengambil sumpah 4 saksi yang dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU), Majelis Hakim memulai sidang dan mendengarkan keterangan saksi korban Bupati Bima, IDP. Wanita cantik yang menjadi saksi korban itu, saat sidang mengenakan stelan celana hitam dan kemeja putih dengan jilbab warna krem (coktlat terang), dalam persidangan sebagaimana cercaan pertanyaan majelis hakim mengaku, nama baiknya dihina oleh terdakwa. Atas sejumlah status  yang diposting terdakwa melalui media sosial facebook dengan akun Bima Mawardy.

“Saya merasa dihina oleh terdakwa. Postingannya itu saya tau dari ajudan saya Bayu Setiawan, dalam bentuk screenshot (tangkapan layar) yang dikirim ke whatsapp saya,” kata Bupati Dinda, sapaan akrabnya.

Dari fakta persidangan dan sebagaimana pengakuan saksi korban yang ditanyakan majelis hakim, seidaknya ada 5 postingan terdakwa yang membuat namanya tercemar. Baik sebagai Bupati Bima, maupun sebagai pribadi. “Kurang lebih 5 postingan di facebook atas nama akun Bima Mawardy, diposting pada waktu yang berbeda di tahun 2019,”bebernya.

Malah kata IDP didepan persidangan, hingga kini Agus Mawardy melalui akunnya masih menulis status yang walaupun tidak secara langsung menghina dirinya melalui akun Agus Mawardy. “Tapi, 5 postingan yang discreenshot itu yang jadi dasar saya laporkan terdakwa ke polisi,”urainya.

Saksi Korban IDP saat ditanya majelis hakim, mengiyakan mengenal Agus sejak menjabat sebagai Bupati Bima. “Saya kenal terdakwa Agus Mawardy. Akun Bima Mawardy saya rasa orang yang sama dengan terdakwa, karena ada foto profil facebooknya yang dipasang meski berganti-ganti,”menajwab pertanyaan majelis hakim.
Soal apakah Agus selaku terdakwa atas kasus dugaan penghinaan dan pencemaran nama baiknya, telah meminta maaf, diakuinya, tidak pernah meminta maaf kepadanya. Baik permintaan maaf secara langsung, maupun melalui media online dan media sosial facebook. “Saya tidak pernah melihat permintaan maaf terdakwa,” imbuhnya.

Moemn menarik lainnya saat persidangan berlangsung, Penasehat Hukum (PH) Bambang Purwanto menanyakan pada saksi korban, terkait hubungannya dengan mantan Kapolres Bima sebagaimana yang ditulis terdakwa dalam statusnya, Bupati Dinda tegas mengatakan tidak ada hubungan. “Saya tidak punya hubungan kerja maupun lainnya. Saya kenal beliau karena pernah jadi Kapolres,” tegasnya.

Dipenghujung kesaksiannya, saksi korban menyatakan, sebagai orang beragama, memaafkan terdakwa Agus Mawardy. Namun, meminta Majelis Hakim tetap menjalankan proses hukum secara adil. Hal itu bukan saja memberi efek jera terdakwa, tetapi pembelajaran bagi yang lain agar tidak melakukan hal yang sama.

“Saya maafkan terdakwa secara agama yang saya anut. Tapi saya minta keadilan hukum karena terdakwa tidak hanya menyebut nama saya secara pribadi, tetapi menyebut jabatan saya. Apalagi kami ini sebagai contoh masyarakat. Apa yang diposting terdakwa, siapapun perempuan pasti merasa terhina,” jelas Bupati Dinda.

Sidang dilanjutkan dengan keterangan 3 saksi lainnya. Yaitu, mantan ajudan Bupati Bima Bayu Setiawan, CPNS Kabupaten Bima Santun Aulia, dan seorang saksi dari kalangan swasta.

Saksi Bayu Setiawan mengakui jika  5 postingan terdakwa discreenshot oleh dirinya. Postingan-postingan tersebut disampaikan ke Bupati Bima melalui whatsapp. “Benar, saya yang screenshot dan melaporkannya ke bupati,” akunya.

Bayu juga mengaku mengenal terdakwa Agus Mawardy. Selain itu, dia juga berteman di media sosial facebook.

Hal yang sama diakui saksi Santun Aulia. Dia mengetahui postingan-postingan terdakwa yang diduga mengandung penghinaan terhadap bupati. Sedangkan seorang saksi lainnya, mengenal terdakwa di facebook sekitar 2 tahun lalu. Dia juga mengtahui postingan tersebut.(RED)