Dua Warga Penerima BSPS Dicoret, Lurah Dituding Nepotisme

iklan 970x250 px

Dua Warga Penerima BSPS Dicoret, Lurah Dituding Nepotisme

18 September 2020

Kota Bima BONGKAR,- Dua warga miskin asal Kelurahan Kendo, Kecamatan Raba, Kota Bima yang sebelumnya telah diusulkan mendapatkan Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang bersumber dari anggaran Pemerintah Provinsi NTB, tiba-tiba namanya hilang di tengah jalan. 

Keluarga Penerima Bantuan, Aisyah mengungkapkan, dua warga yang dicoret namanya sebagai penerima program bedah rumah atau BSPS di Kendo yaitu warga RT. 09 atas nama Abdullah (55) dan Almarhum H. Jamaludin yang rumahnya kini ditempati oleh istrinya, Ma'ani. 

"Sejak Lurah Pak Suryadin tahun 2019 lalu, Pak Abdullah dan Ibu Ma'ani sudah diusulkan dan bisa dipastikan akan menerima BSPS tahun ini yang anggarannya masing-masing Rp17,5 juta. Keduanya memang sangat layak menerima bantuan, karena kondisi rumahnya yang memprihatikan saat ini," ungkap Aisyah, Jum'at, 18 September 2020, pagi ini.

Kata Aisyah, setelah Lurah Kendo diganti dan sekarang diduduki oleh H. Andi, warga Kendo asli. Diduga, dua nama penerima bantuan yang hilang di tengah jalan ini diganti dengan keluarganya yang ada di Kendo.

"Sempat didatangi sekitar 10 hari yang lalu oleh pihak Dinas Perkim, Kelurahan dan Babinsa yang mengabari bahwa dua nama ini aka  menerima bantuan. Tapi, setelah dikonfirmasi kembali sekitar tiga hari yang lalu, kedua nama keluarga saya ini hilang dan dicoret sebagai penerima bantuan," jelasnya.

Aisyah menjelaskan, alasan pihak Pemerintah setelah ditanya tentang hilangnya dua nama warga miskin di Kendo ini, alasan salah seorang oknum pegawai di Dinas Perkim karena kedua warga ini tak punya uang untuk dana swadaya. Saat ditanya Lurah Kendo, pengakuan dia, warga tersebut yang tak mau terima bantuan.

"Alasan Lurah itu mengada-ngada. Keduanya sangat ingin menerima bantuan tersebut. Setelah bertemu dua warga yang dicoret namanya ini di kantor Kelurahan, jelas keduanya sangat kecewa dicoret namanya sebagai penerima bantuan," jelas dia.

Dia mengungkapkan, alasan uang swadaya dari penerima manfaat itu tidak boleh jadi alasan untuk dicoret nama warga yang sudah ditetapkan sebelumnya. Selain itu, anggaran Rp17,5 juta untuk penerima manfaat telah dialokasikan oleh pemerintah untuk material bantuan sebesar Rp15 juta dan untuk tukang Rp2,5 juta. 

"Dan seharusnya yang miskin begini harus dapat bantuan. Jangan dicoret di tengah jalan. Kami akan protes sampai ke Wali Kota masalah ini," tukas dia.

Dia juga mengaku, pihaknya sudah mendatangi Kabid Perumahan (Pak Faruk) tentang masalah ini. Saat bertemu beberapa hari yang lalu, Pak Faruk janji turun ke Kendo kemarin. Tapi janji bohong juga, dia ditunggu yang ngakunya akan datang bersama pihak Kelurahan dan Babinsa tapi tak kunjung datang hingga saat ini.

"Kami kecewa dengan cara oknum pegawai pemerintah yang bermain  dan mencoret dua nama warga miskin ini. Sungguh sangat kecewa perasaan warga yang sudah dijanjikan menerima bantuan tapi didzolimi di tengah jalan begini. Semoga saja, dengan berita ini, dua warga ini bisa mendapatkan kembali haknya," tutup Aisyah. (RED)